Halaman

Glitter Text

Jumat, 31 Agustus 2012

LENYAP

Hatimu putih seputih salju
Sifatmu melebihi lembutnya salju
Auramu selalu menyegarkan jiwaku
Senyummu membekukan hatiku
Mencairkan suasana yang kelam
Tapi, dimalam yang sangat gelap
Hatiku terasa senyap
Selalu aku beranggap
Kau telah pergi lenyap
Meninggalkanku terbang tanpa sayap
Ingin ku mengejarmu lebih jauh
Fikiranku selalu terbayang-bayang wajahmu
Anganku tak bisa lepas darimu
Hatiku hanyalah untukmu






Penantian

Di tengah dinginnya salju yang turun menyapaku
Ku diam termangu memikirkan sesuatu
Ku akan tetap menunggu kedatanganmu
Dan akan tetap mempertahankan posisiku
Duduk terpaku di bawah tower

Berjam-jam aku menunggu untuk kedatanganmu
Tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya
Ku akan tetap bertahan sampai kau datang menemuiku
Dan mengucapkan  apa yang ingin kudengarkan

Namun, setelah kau datang menemuiku
Mengapa ???
Kau begitu kesal kepadaku, kau sangat marah padaku
Mengapa bukan aku yang harus marah kepadamu ?

Ku tertunduk dan bersabar mendengar ocehanmu
Tak akan kubalas ocehanmu dengan cabai yang pedas
Walaupun kau menyadari, kau lah yang bersalah
Ku tetap memaafkanmu dan menantimu
Menerima hatiku yang terbuka lebar untukmu

Tips menjauhkan diri dari bahaya rokok

Ada beberapa tips / upaya untuk mencegah dan menjauhkan diri pada rokok, antara lain :
1.Pahami ketertarikan yang dapat ditimbulkan oleh rokok.
Terkadang remaja melihat rokok sebagai suatu bentuk pemberontakan atau sebagai cara untuk dapat diterima oleh teman-temannya. Untuk mengetahui lebih jelas ajaklah anak berdiskusi mengenai rokok termasuk pandangannya mengenai rokok tersebut.
2.Katakan tidak pada rokok.
 Mungkin terkadang para orang tua merasa bahwa anak tidak pernah mendengarkan ucapan mereka, tetapi jangan patah semangat. Tetaplah katakan tidak pada rokok & bilang bahwa tindakan tersebut tidak dapat diterima oleh anda.
3.Berikan contoh yang baik.
 Anak biasanya akan meniru tindakan orang terdekatnya, jadi apabila orang tua melarang anaknya untuk merokok, sebaiknya mereka pun juga tidak mengkonsumsi rokok.
4.Rokok bukanlah hal yang keren.
 Tunjukkan pada anak bahwa merokok bukanlah sesuatu hal yang keren atau dapat dibanggakan. Rokok dapat membuat nafas menjadi bau, membuat gigi menjadi kuning, menyebabkan batuk & kehilangan tenaga untuk dapat melakukan aktifitas olahraga ataupun kegiatan lain.
5.Rokok membuang uang.
 Merokok merupakan hal yang mahal. Bantu anak untuk menghitung pengeluaran yang harus dilakukan apabila mengkonsumsi rokok selama seminggu, sebulan ataupun setahun. Bandingkan uang tersebut dengan barang elektronik ataupun barang lain yang dapat diperoleh apabila tidak merokok.
6.Pahami tekanan dari teman sebaya.
 Adanya teman yang merokok dapat mempengaruhi anak. Berikan mereka kepercayaan diri untuk dapat bersosialisasi dengan teman mereka tanpa merokok.
7.Tangani kecanduan akibat rokok dengan serius.
 Banyak remaja yang percaya bahwa mereka dapat berhenti merokok kapanpun mereka mau, tetapi kenyataannya nikotin dapat membuat mereka menjadi kecanduan sama seperti pada orang dewasa.
8.Berikan gambaran mengenai masa depan mereka.
 Anak-anak cenderung percaya bahwa mereka tidak akan terkena dampak buruk dari rokok. Tetapi masalah kesehatan seperti kanker, serangan jantung & stroke sangat beresiko dialami oleh mereka yang merokok. Berilah contoh orang yang anda kenal yang menderita karena rokok.
9.Awasi penggunaan produk bertembakau lainnya
 Banyak jenis produk bertembakau lainnya yang dianggap lebih aman daripada rokok. Tetapi sebenarnya produks tersebut sama saja dengan rokok, dapat menimbulkan ketergantungan serta bahaya kesehatan yang sama.
10.Ikut terlibat secara aktif.
 Aktiflah untuk ikut terlibat dalam kegiatan pencegahan rokok baik di sekolah ataupun lingkungan rumah.
11.     Mantapkan niat untuk segera berhenti merokok
12.     Atur waktunya tidak perlu menunggu bulan depan tetapi kalu bisa sekarang berhentilah sekarang juga
13.     Hindari para perokok terutama teman-teman bergaul yang sering merokok. Bergaulah dengan anak bukan perokok atau sudah berhenti merokok
14.     Buang semua barang-barang yang berhubungan dengan rokok seperti asbak, bekas rokok dan korek api dari kamar atau tas
15.     Sampaikan kepada keluarga bahwa kita berniat berhenti merokok dan minta dukungan mereka semua.
Apabila anak anda sudah terlanjur untuk merokok, jangan mengancam dengan memberi ultimatum untuk berhenti merokok. Sebaiknya dukung dia, cari tahu alasan kenapa mereka merokok kemudian diskusikan mengenai langkah yang dapat diambil untuk membantu mereka berhenti merokok.






Sabtu, 11 Agustus 2012

Super Junior - SorrySorryAnswer




Jujur Adalah Hal yang Baik



Namaku Alliyah Putri Ramadhani, biasa dipanggil Putri. Tetapi, teman-teman banyak yang memanggilku Alliyah. Aku anak ke-2 dari 3 bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki. Dia kelas 2 SMA. Dan seorang adik kecil. Dia berumur 3 tahun. Aku sering mengajak adik kecilku bermain-main. Aku salah satu siswa kelas IV SDN Cemara Kasih 3. Aku juga termasuk anak yang pintar di kelas.
Pukul 05.00 jam bekerku berdering. Tiba-tiba saja aku terbangun karena mendengar suara jam bekerku. Aku pun segera merapikan tempat tidurku. Setelah itu, aku mandi. Selesai mandi, aku sholat Subuh dan mempersiapkan keperluanku untuk sekolah, tak lupa aku sarapan. Pukul 06.45, aku segera berangkat menuju sekolah. Jarak antara rumahku menuju sekolah naik motor kurang lebih membutuhkan waktu 15 menit. Sesampainya di sekolah, bel masuk berbunyi. Aku segera menuju ruang kelasku, yang terletak di lantai 2 sekolahku. Dengan niat bersungguh-sungguh, aku melaksanakan kegiatan belajar di sekolah. Jam pertama, aku mendapat pelajaran Bahasa Indonesia. Guru bernama Bu Ria. Beliau sangat sabar kepada murid-muridnya. Beliau juga jarang marah kepada kami. Materi hari ini adalah membahas tentang "Kejujuran". Dengan sungguh-sungguh aku memperhatikan keterangan dari bu guru tentang materi pada hari itu.
Setelah jam pelajaran Bahasa Indonesia selesai, saatnya istirahat. Aku dan teman-teman keluar kelas. 15 menit aku habiskan untuk bermain bersama teman-temanku. Aku dan teman-temanku segera menuju kantin sekolah untuk membeli beberapa makanan ringan. Sambil menuju kantin, kami saling bercerita satu sama lain. Tiba-tiba saja temanku bernama Dina terjatuh, tersandung batu. Kakinya luka, sedikit mengeluarkan darah. Uang yang ada di saku bajunya ikut terjatuh. Ia merengek kesakitan sambil menangis sebentar menahan rasa sakitnya. Aku dan teman-teman cepat menolongnya untuk berdiri. Kami juga mengajaknya menuju UKS sekolah, tapi Dina menolaknya, karena lukanya hanya ringan. Tanpa sepengetahuan Dina dan teman-teman, Lita diam-diam mengambil beberapa uang Dina. Saat Dina mengambil uang sakunya yang jatuh, tiba-tiba dia berkata , “Kok uangku tinggal Rp 3.000,00 , padahal aku tadi dikasih uang sama ibuku Rp 5.000,00 ”. Dengan jujur, aku dan teman-temanku berkata , “Aku tidak mengambilnya kok. Sungguh”. Dina juga mempercayai kami. Kemudian Caca bertanya ,“Apa kamu tidak salah taruh. Mungkin kamu taruh ditas sebagiannya atau di tepak pensilmu atau ditempat lain?” “Coba kamu ingat dulu, mungkin kamu lupa”, tambahku. Dengan cepat Dina menjawab yakin , “Tidak kok. Aku tidak lupa. Aku menaruhnya di saku bajuku. Aku benar-benar ingat”. Lita yang melihat teman-temannya bingung, segera berkata , “Ya sudahlah. Bagaimana kalau aku meminjamimu uang saja? Agar kamu bisa jajan lebih banyak”. “Tidak usah, aku memakai sisa uangku saja”. Mendengar jawaban Dina, akhirnya kami segera menuju kantin sekolah. Dina berjalan pincang dan kita membantunya.
Setelah membeli beberapa makanan ringan, kami menuju kelas untuk makan dan bercanda bersama. Karena makan terburu-buru sambil tertawa keras, Lita tersedak, batu-batu sampa tenggorokannya terasa sangat sakit. Aku yang melihatnya, segera memberinya air putih. Ia pun meminum air putih itu. Sementara Caca, memijit bagian leher bawahnya. Dina tidak bisa menolong karena kakinya sakit.
3 menit kemudian, bel masuk berbunyi. Lita sudah baikan, walaupun Dina masih merasakan rasa sakit pada kakinya. Pelajaran setelah istirahat adalah pelajaran Matematika. Bu Min guru berhitung kami. Pelajaran Matematika adalah yang paling aku suka. Tapi banyak teman-temanku yang sangat tidak suka pada pelajaran ini, karena pelajarannya sulit dan bikin pusing. Sebelumnya, bu Min memberi kami PR (Pekerjaan Rumah), mengerjakan Buku Paket halaman 56. Beliau mengingatkan murid-murid untuk segera mengumpulkannya. Semua anak pun mengumpulkan PR nya di meja guru. Tetapi Lita dengan sibuk mencari bukunya. Ia sampai berkeringat.
Melihat Lita kebingungan, Bu Guru menghampirinya. “Lita, ada apa ? Kenapa PR nya belum kamu kumpulkan ? Kamu belum mengerjakan ?”.
Mendengar Bu Min marah-marah, Lita menjawab dengan ketakutan , “Maaf, Bu. Buku saya tertinggal di rumah”.
“Baiklah, karena kamu tidak mengumpulkan PR nya, Ibu harus menghukummu. Kamu berdiri di depan pintu kelas sampai pelajaran selesai.”
Dengan badan gemetaran, Lita segera melaksanakan hukuman Bu Min. Tak biasanya Bu Min marah-marah seperti ini.
Pelajaran Matematika pun selesai. Kini saatnya murid-murid SDN Cemara Kasih pulang. Aku dan ketiga temanku (termasuk Lita juga) keluar kelas, segera pulang menuju rumah masing-masing. Dina masih berjalan sedikit pincang. Seperti biasa, kami selalu bernyanyi dan bercanda bersama saat perjalanan pulang.Kami semua sangat ceria, tetapi Lita terlihat sangat murung sedikit melamun.
Aku yang melihat Lita melamun, segera menyadarkannya , “Hei, melamun saja.”
“Emang ada masalah apa ? Dari bel pulang kok murung terus ?” Dina menyela. “Apa karena tadi, Bu Min marah-marah dan menghukummu ?” Caca menambahi.
“Iya juga. Tapi sebenarnya bukan itu yang aku pikirkan”.
“Lalu, apa masalahnya dong?” Aku penasaran.
“Sebenarnya, yang mengambil uang Rp 2.000,00 Dina tadi aku. Aku mengambilnya saat Dina terjatuh tadi.” Dengan muka bersalah Lita mengakuinya.
Teman-teman dan aku yang mendengar itu, kaget sekali. “Kenapa sih, kamu bisa jahat begini ke Dina. Memang apa salah Dina ?” Caca kecewa.
Sambil menatap Dina, Lita menjawab dengan perasaan sedikit menyesal. “Dina, aku minta maaf ya ! Aku sangat bersalah sama kamu. Tapi kalau kamu tidak mau memaafkanku dan kamu ingin memukulku, aku tidak marah kok.”
Dina sebenarnya juga ingin marah kepada Lita, tapi niatnya tertunda.
“Kenapa kamu tega mengambil uang Dina ?” Aku segera menenangkan suasana.
“Aku mengambil uang Dina, karena ibuku tidak memberiku uang saku. Karena waktu itu aku sangat lapar dan tidak mempunyai uang, aku nekat mengambil uang Dina.”
“Haahhh !” Semua kaget.
“Ohh, hanya itu. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tidak punya uang saku? Kan aku bisa meminjamimu.” Jawab Dina tanpa marah sedikitpun.
“Aku tidak ingin merepotkanmu” Lita membalasnya.
“Kalau kamu tidak ingin merepotkan Dina, kenapa kamu mengambil uang miliknya ? itu kan DOSA.” Terang caca.
“Kalau kamu mencuri barang milik orang lain, nanti kamu bisa dihukum sama Tuhan lohh.” kataku memperingatkan Lita.
“Tapi maafkan aku, Dina. Uangmu sudah habis, karena aku membelikannya kue tadi. Besok saja aku menggantinya ya. Kamu tidak keberatan kan ?” Lita berkata kepada Dina.
“Tidak usah Lita. Aku ikhlas kok.” Jawab Dina.
“Lain kali, kalau kamu butuh uang atau apapun, kami akan memberimu.” Terangku.
Akhirnya kami semua pulang ke rumah masing-masing dengan rasa lega.




Selasa, 03 April 2012